Daily Archives: 10 Juni 2011

Warga Tamansari Temui Ketua Dewan Minta Difasilitasi


Soal Keluhan fasilitas PerumahanTamansari

PALABUHANRATU ONLINE – sekitar 20 orang perwakilan warga Taman Sari Palabuhanratu kunjungi Rumah Dinas (Rumdin) Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Badri Suhendi di Jalan Bhayangkara,hari ini Jumat,10/6  Pada kunjungannya itu, warga meminta difasilitasi Ketua Dewan agar tuntutan warga soal fasilitas umum Perumahan Taman Sari palabuhanratu dilengkapi. “Kami hanya ingin Pa Ketua Dewan agar memfasilitasi kami untuk mencarikan jalan terbaik. dan kami menuntut fasilitas yang dijanjikan dalam brosur pemasaran Perumahan Taman Sari,” kata Ketua RW 35 Taman Sari Palabuhanratu, Rian Andrianysah di Rumdin Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, kemarin. Ia membeberkan kembali keluhan warga seperti saat dua kali mendatangi Kantor Pemasaran Tamansari dua pekan yang lalu. Tuntutan mereka yakni, pemenuhan suplai air bersih ke rumah warga, Pembangunan Masjid, Perbaikan infrastruktur jalan, Penerangan Jalan Umum (PJU) dan lapangan Bola Volly sebagai sarana olahraga. “Yang sedang dikerjakan pihak pengembang hanya lapangan bola volly saja. sdangkan yang lainnya belum terlihat reaksi apa-apa. Dan pengaspalanpun seperti yang diakui Menejer yang katanya dimulai di Blok D juga belum terlihat. Jalan itu masih belum ada perbaikan. PJU katanya kemarin mau dinyalakan juga masih gelap. dan penggantian pompa air yang juga katanya tinggal menunggu pekerja. Namun hingga kini kami masih minim mendapatkan air karena pompanya belum diganti,” beber Rian yang bekerja di Dinas kehutanan dan Perkebunan kabupaten Sukabumi seraya diamini warga lainnya yang notabene PNS, dan anggota Polres Sukabumi. Ia juga menuntut persoalan air mesti diselesaikan selama tiga minggu terhitungd ari 26 Mei lalu Seperti yang disepakati pada musyawarah 26 mei lalu,” tuntutnya. Lanjut dia, sebentar lagi Umat Muslim termasuk warga Tamansari yang notabene dihuni umat muslim akan menjalankan ibadah puasa. “kalai Ramadhan air belum bagus, kami tidak tahu apa jadinya.

Mungkin warga akan marah besar,” katanya. Sementara itu, Badri menanggapi permintaan itu dengan mengakomodir semua tuntutan dan keluhan warga. Bahkan Badri berencana , kalau tidak ada aral melintang Rabu (14/6) mendatang. “kami akan melayangkan surat kepada pihak Wika Realty Taman Sari hari Senin (12/6) awal pekan mendatang. kami juga sekaligus akan memanggil Menejer Tamansari Palabuhanratu sebelum.

Menejer baru yang sekarang menjabat yakni pak Eko. Karena berdasarkan keterangan dari warga, masalah ini muncul saat pemasaran itu dipimpin Pak Eko,” jelasnya. Dia   juga berharap, dari pertemuan Rabu mendatang, kedua belah pihak dapat memenuhi undangan DPRD hingga bisa dicarikan solusinya. “Karena jika masalah ini berlarut-larut akan berdampak buruk buat masyarakat dan penjualan Perumahan Tamansari. Jadi, pada rapat nanti diharapkan menguntungkan kesemua pihak,” harapnya.

Iklan

BKSDA akan Tindak Tegas Bangunan Liar di Cagar Alam


PALABUHANRATU  ONLINE – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah Palabuhanratu tetap akan menertibkan warung-warung yang berada di TWA (Taman Wisata Alam) Sukawayana dan cagar alam dengan meminta bantuan pada aparat pemda. Kalau masih ada pemilik warung yang membandel, BKSDA akan melaporkannya ke aparat penegak hukum untuk diproses hingga ke pengadilan.

Kami sudah menyampaikan sosialisasi kepada para pemilik bangunan agar bersedia mengikuti program penertiban TWA dan cagar alam, kata Kepala Resor BKSDA Wilayah Palabuhanratu, Tamsyur, hari ini Jumat,10/6

Bangunan-bangunan warung itu tersebar di TWA dan cagar alam. Semua bangunan yang berada di cagar alam akan dipindahkan ke TWA. Nantinya fungsi bangunan di TWA harus dikembalikan pada konsep awal sebagai sebagai warung wisata serta tidak boleh dijadikan tempat tinggal dan tempat hiburan.

Berdasarkan pertamuan di balai desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Rabu (8/6) lalu, BKSDA dan Pemkab Sukabumi akan menjalankan fungsi masing-masing dalam penertiban dan penataan TWA dan cagar alam. Pemkab akan menerjunkan aparatnya untuk penertiban, sedangkan BKSDA akan melakukan penataan.

Semua pemilik warung tidak boleh bertempat tinggal di TWA Sukawayana. Pemkab akan memberikan tanah seluas 50 meterpersegi yang terdapat di Cikeong dan biaya pindah sebesar Rp1 juta bagi tiap pedagang yang tidak memiliki rumah.

Setelah penertiban ini, cagar alam terbebas dari bangunan dan semua bangunan di TWA berfungsi sebagai warung wisata. Para pedagang diberi waktu satu bulan untuk memindahkan bangunan dari cagar alam, ujar Tamsyur.

Maraknya bangunan tanpa izin di TWA Sukawayana, kata Tamsyur, tidak dapat dicegah oleh BKSAD. Soalnya kewenangan untuk menindak bangunan-bangunan di TWA tersebut berada di Balai Besar Konservasi SDA Jawa Barat.

Kami hanya bisa mencegah bertambahnya bangunan-bangunan di TWA Sukawayana, sedangkan untuk penindakan merupakan kewenangan provinsi, kata Tamsyur.

Karena kewenangannya terbatas, Tamsyur tidak dapat mengawasi dan mengendalikan pertumbuhan warung remang-remang di TWA Sukawayana. Dia juga mengakui, dari waktu ke waktu jumlah bangunan tak berijin di lokasi yang dilindungi itu terus bertambah. Saya mengakui warung remang-remang di lokasi wisata alam itu menunjukkan penambahan, ujarnya.

Sebenarnya, kata dia, BKSDA memiliki partner dalam mengelola dan menertibkan lahan TWA Sukawayana. Dalam hal ini ada CV Batu Alam yang memegang IPPA (Izin Pengusahaan Pariwisata Alam) untuk lokasi TWA Sukawayana. Sebagian lahan TWA dikelola dan diawasi oleh CV Batu Alam.

Kami hanya mengelola lahan konservasi yang luasnya tidak lebih daripada sembilan hektare. Di lokasi yang kami kelola memang tidak boleh ada kegiatan apapun, termasuk kegiatan usaha, kata Tamsyur.
Dia mengimbau CV Batu Alam sebagai pemegang IPPA untuk mengambil tindakan terhadap bangunan warung remang-remang yang tidak memiliki izin. Pada tahun 2004, CV Batu Alam membangun 116 unit warung, sekarang jumlah bangunan warung sudah mencapai 177 buah.

Konsep awalnya, warung yang dikembangkan adalah warung wisata, tapi kemudian berubah menjadi warung remang-remang, ungkapnya.

Tamsyur menyesalkan sikap CV Batu Alam yang terkesan seperti tidak memiliki niat untuk menata ulang TWA Sukawayana. Dia mengharapkan fungsi warung-warung tersebut dikembalikan ke fungsi semula sebagai warung wisata.