Kasus Penjualan Manusia di Kab. Sukabumi Meningkat


PALABUHANRATU ONLINE  – Kasus perdagangan manusia di Kabupaten Sukabumi volumenya meningkat. Berdasarkan data dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, dari 68 kasus yang ditangani, 40 persennya merupakan kasus penjualan manusia (trafficking- red). Sehingga hasil ini menempatkan Kabupaten Sukabumi berada di nomor dua se-Jawa Barat, setelah Indramayu. “Dalam setahun terakhir kita menangani sekitar 68 kasus, sebanyak 40 persennya merupakan kasus trafficking,” kata Ketua P2TP2A Kabupaten Sukabumi, Elis Nurbaeti kepada wartawan di kantornya, Rabu (7/12). Menurut Elis, sepanjang tahun 2011 laporan kasus trafficking mencapai 27 kasus. Selain trafficking, kasus yang ditangani lainnya menyangkut kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. “Kasus trafficking yang belum terungkap di lapangan masih banyak. Kita akui dengan luas wilayah yang cukup besar, belum semuanya kasus tertangani,” ujarnya. Dijelaskan Elis, pihaknya telah menyediakan rumah singgah bagi korban trafficking. Tempat itu untuk mengakomodir pengaduan dan pelaporan kasus trafficking. “Pemerintah Kabupaten juga sudah mengeluarkan aturan mengenai permasalahan perdagangan manusia, yakni Peraturan Daerah Nomor. 2 Tahun 2008, tentang pencegahan perdagangan orang dan peraturan bupati Nomor. 21 Tahun 2009,” urainya. Kasus trafficking terakhir menimpa Tini Binti Hari (24) yang meninggal di Malaysia. Warga asal Kampung Babakan, RT 04/RW 06, Desa Lembursawah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi ini hingga kini penyebab kematiannya masih misterius.

Iklan

Komentar ditutup.