KEGIATAN TAMBANG EMAS ILEGAL DI KECAMATAN CIEMAS GUNAKAN ZAT KIMIA BERBAHAYA


PALABUHANRATU ONLINE – Maraknya kegiatan penambang emas ilegal di wilayah Pejampangan khususnya Kecamatan Ciemas menuai protes.

Pasalnya, dampak dari aksi liar penambang nakal tersebut mengakibatkan kerusakan lahan pertanian di empat desa. Yakni Ciwaru, Mekarsakti, Mekarjaya,dan Mandrajaya .

Kepala Distamben Kabupaten Sukabumi, Adi Purnomo mengatakan, dampak dari kegiatan tambang emas liar ini, makin dirasakan bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di empat desa Kecamatan Ciemas.

“Bagi pelaku Gapoktan diempat desa tersebut jelas mengeluh. Lantaran, ladang sawah dan perkebunan terjadi  penurunan hasil pendapatan hingga 50%,” ujarnya saat audiensi bersama Bupati Sukabumi di Pendopo Palabuhanratu, hari ini Senin (18/05/2015).

Beberapa titik yang diduga terjadinya penambangan emas liar di Cibuluh, Cigombong, Cikadu, Cipancar dan Pasirmanggu. Akibatnya, aktivitas dari penambangan tersebut langsung ke air Sungai Ciwaru, Sungai Cimarinjung dan Sungai Ciletuh. Tentunya ini, akan mengakibatkan sungai terjadi pendangkalan (sidementasi) dan pesawahan akan menjadi buruk,” Terang Adi.

“Bahan kimia berbahaya  seperti Sianida (CN) yang sering digunakan para penambang guna mengurai emas dari batu ini mengalir ke Sungai. Sehingga, air yang sudah terkontaminasi akan mengakibatkan buruk,” tegasnya.

Beberapa  penambangan emas liar di Cibuluh, Cigombong, Cikadu, Cipancar dan Pasirmanggu. Akibatnya, aktivitas dari penambangan tersebut langsung ke air Sungai Ciwaru

Beberapa penambangan emas liar di Cibuluh, Cigombong, Cikadu, Cipancar dan Pasirmanggu. Akibatnya, aktivitas dari penambangan tersebut langsung ke air Sungai Ciwaru (Photo :Palabuhanratu Online)

Adapun alternatif solusi dari pencegahan maraknya aksi ilegal mining itu, lanjut Adi, pemodal atau investor harus jelas, tetapkan perda pertambangan, serta  pengawasan aturan tentang peredaran bahan kimia berbahaya seperti air raksa atau sianida, penertiban pemilik lahan dan membentuk kerjasama dengan aparatur pemerintah,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ciwaru, Taupik Guntur Rochmi menambahkan,
para petani diwilayahnya tersebut kerap mengeluhkan dari dampak maraknya kegiatan tambang emas liar ini. Alhasil, kini yang dirasakan warganya itu, tercemarnya lingkungan daerah aliran sungai tersebut.

“Sangat mengancam bahaya akibat air sungai yang dipergunakan masyarakat sudah terkontaminasi sianida,” tambahnya.

Reporter : Bardal

Komentar ditutup.