PROYEK PELABUHAN REGIONAL BIKIN TAK NYAMAN PEMILIK HOTEL


PALABUHANRATU ONLINE – Pemilik Hotel Bunga Ayu di Jalan Raya Citepus-Palabuhanratu menuding proyek pembangunan Pelabuhan Pengumpan Regional Palabuhanratu, bakal menurunkan tingkat hunian dalam beberapa minggu ke depan. Selain itu, suara dan getaran alat berat membuat tak nyaman para tamu hotel yang sedang liburan akhir pekan.

“Aktivitas proyek itu jelas mengganggu kenyamanan pengunjung hotel. Sekarang belum terasa dampaknya. Diperkirakan minggu depan baru akan terasa, baik dari aspek kenyamanan maupun tingkat hunian,” ujar Toni Elln owner Hotel Bunga Ayu, Senin (30/11/2015).

Proyek pelabuhan regional yang bikin tak nyaman pemilik hotel (Photo : Palabuhanratu Online)

Proyek pelabuhan regional yang bikin tak nyaman pemilik hotel (Photo : Palabuhanratu Online)

Menurutnya, wisatawan datang ke kawasan objek wisata Karangsari Palabuhanratu, biasanya hanya ingin melihat pemandangan pantai dan ombaknya cukup menantang untuk bermain surfing. Tapi sayang kawasan itu kini disulap menjadi pelabuhan regional.

“Yang dijual pengusaha perhotelan itu rasa aman, nyaman, dan panorama disekitarnya. Tapi apabila daya tariknya sudah berubah, apa yang mau dipromosikan? Apalagi sekarang sudah ada alat berat dilokasi proyek yang berdekatan dengan hotel saya. Sangat mengganggu sekali,” katanya

Lagi pula lanjutnya, manajemen hotel tidak menerima surat pemberitahuan resmi dari pemerintah terkait rencana pembangunan pelabuhan pengumpan regional di Pantai Karangsari.

Bahkan pihaknya mengaku tidak pernah dimintai tandatangan persetujuan izin tetangga sebelum pelaksanaan proyek pelabuhan regional tersebut.

“Awalnya tidak tahu lokasi itu akan dibangun apa? Saya hanya menerima informasi sepintas dari pemerintah bukan melalui surat resmi, bahwa di Pantai Karangsari akan dibangun pelabuhan regional,” ungkap Toni, salah satu cucu dari Jeje Wikarta Atmaja, pemilik tunggal Hotel Bunga Ayu ini.

Dia menduga proyek yang baru berjalan beberapa hari tersebut belum memiliki Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Sebab pihaknya tidak mengetahui ada sosialisasi Amdal. Padahal, Amdal dan izin lingkungan merupakan persyaratan wajib dikantongi oleh pemerintah maupun swasta yang akan melaksanakan pembangunan proyek.

“Amdal dan izin tetangga adalah persyaratan yang harus ditempuh. Asumsi saya, proyek ini belum punya Amdal,” cetusnya.

Ditemui dikantornya, Kepala Bagian Tata Usaha Unit Pelayanan Pelabuhan (UPP) Palabuhanratu Ade Jaya menyatakan, sosialisasi pra pembangunan pelabuhan regional sudah dilaksanakan jauh-jauh hari. Termasuk mengundang warga dan para pemilik hotel radius terdekat dengan lokasi proyek.
“Ini proyek pemerintah pusat yang harus segera dilaksanakan sebagai akselerasi pembangunan di daerah. Sebelumnya, kami telah mengundang pemilik Hotel Bunga Ayu, tapi tidak hadir diacara sosialisasi,” jelas Ade.

Ditanya soal pemilik hotel belum menerima surat pemberitahuan resmi dari pemerintah terkait rencana pembangunan pelabuhan regional, pihaknya mengakui sosialisasi awal tidak menggunakan surat. Semua berjalan secara lisan.

“Hari ini (Senin, red), surat pemberitahuan mulai dilaksanakannya pembangunan akan kami sampaikan ke pemerintah provinsi, kabupaten, warga termasuk para pemilik hotel,” ucap dia.

Sementara Kepala Seksi Perkapalan Bidang Perhubungan Laut dan ASDP Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Kabupaten Sukabumi, Mulyadi menegaskan, urusan pembangunan proyek pelabuhan regional kewenangan pusat. Provinsi dan Kabupaten Sukabumi hanya sebagai fasilitator dalam aspek pengadaan tanah.

“Anggarannya dari Kementerian Perhubungan. Kewenangan daerah hanya sebagai fasilitator. Kita pun belum tahu siapa yang akan mengelola pelabuhan ini nantinya,” beber Mulyadi.

Disisi lainnya, Dishubkominfo tidak punya kewenangan menyangkut pengeluaran surat pemberitahuan sosialisasi ke warga maupun pemilik hotel terdekat.

“Sosialisasi dan melayangkan surat pemberitahuan rencana pelaksanaan proyek merupakan kewenangan UPP,” tutupnya. (*)

Komentar ditutup.