KOMUNITAS SURFING TOLAK PELABUHAN REGIONAL


PALABUHANRATU ONLINE – Lokasi pembangunan Pelabuhan Pengumban Regional Palabuhanratu di Pantai Karang Pamulang (Karang Sari), Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dinilai komunitas surfing sangat tidak tepat. Pasalnya, Karang Pamulang merupakan ikon wisata minat khusus yang sudah dikenal turis domestik dan mancanegara.

Selain lokasi untuk surfing, pantai ini tempat bermain anak-anak dan orang dewasa dari Palabuhanratu. Hampir setiap hari masyarakat lokal bermain sepak bola dan berenang di Pantai Karang Pamulang.

Ketua Sukabumi Surf Community (SSC) Iman Ambon mengaku, merasa sedih ketika mendengar pemerintah membangun project di Pantai Karang Pamulang. Padahal, lokasi itu merupakan objek wisata minat khusus. Sebaiknya pemerintah harus melakukan penataan dan melestarikannya, bukan disulap menjadi pelabuhan regional.

Komunitas surfing menolak pembangunan pelabuhan regional di Pantai Karang Pamulang (Karang Sari).

Komunitas surfing menolak pembangunan pelabuhan regional di Pantai Karang Pamulang (Karang Sari).

“Pelabuhan regional disitu sangat tidak tepat. Kenapa harus mengorbankan aset wisata yang sudah ada sejak dulu? Kan masih banyak lokasi lain dikawasan Teluk Palabuhanratu yang tidak mengganggu objek wisata minat khusus ini,” ujar Iman di lokasi surfing Cimaja, Sabtu (5/12/2015).

Ia menyarankan, Pantai Cipatuguran, Loji, Gado Bangkong, dan Citepus Muara, adalah alternatif lain untuk dijadikan lokasi pembangunan Pelabuhan Pengumpan Regional. Sebab dilokasi tersebut jarang didatangi turis lokal, domestik, dan mancanegara.

“Kawasan itu tidak mengganggu objek wisata. Komunitas surfing mendukung program pemerintah, tapi jangan mengorbankan aset wisata yang sudah dikenal turis domestik dan mancanegara. Lebih baik, pemerintah mengkaji ulang perencanaan dan penunjukan lokasi Karang Pamulang sebagai kawasan pelabuhan regional,” ungkapnya.

Pantai Karang Sari (Karang Pamulang) yang kini tinggal kenangan

Pantai Karang Sari (Karang Pamulang) yang kini tinggal kenangan

Dilihat dari kacamata komunitas surfing, Pantai Karang Pamulang tetap harus dijaga dan dilestarikan. Jangan ada pembangunan skala besar di pantai itu yang dapat merusak keindahan alam dan ombaknya.

“Kaji ulang perencanaannya dan segera pindahkan dari lokasi surfing Karang Pamulang. Di Australia saja, jika ingin memiliki ombak seperti disini, harus membuang uang cukup besar melebihi anggaran untuk proyek pembangunan pelabuhan regional tersebut,” papar Humas Cimaja Surfing Community, Deni Hermawan, menambahkan.

Menurutnya, turis mancanegara kerap bermain surfing di Pantai Karang Pamulang, karena memiliki back wash (ombak balik ke tengah) setaraf dengan standar internasional.

 

“Palabuhanratu sudah dikenal dunia dari kualitas ombaknya. Ombak Pantai Karang Pamulang alami sejak dulu dan sangat sempurna untuk bermain surfing. Jadi jangan dirusak,” tegasnya.

Pantai Karang Pamulang

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik Bayu Risnandar menyatakan, Pantai Karang Pamulang bukan hanya sebuah tempat, tapi merupakan saksi perjalanan dan pertumbuhan Palabuhanratu.

“Pemerintah terlalu gegabah mengeluarkan kebijakan ini tanpa memahami kultular, sosiologis, dan sejarah nama Pantai Karang Pamulang. Saya hanya ingin membangun kesadaran, bahwa Pantai Karang Pamulang terlalu berharga untuk dilupakan bahkan dilenyapkan,” tutur Bayu.

Ia menjelaskan, Pantai Karang Pamulang dijadikan arah pulang para nelayan usai melaut. Tak heran dari dulu hingga kini, disepanjang pantai ini ajang berkumpul banyak orang.

Inilah lanjutnya, disebut sebagai makna kultural dan sosiologis. Karena di pantai ini sejak dulu terjadi interaksi masyarakat mulai dari laki-laki, perempuan, orang tua, maupun anak-anak yang kemudian membentuk karakter dan kultur masyarakat Palabuhanratu.

“Dulu, di pantai ini sebagai tempat menunggu para nelayan pulang melaut termasuk untuk menambatkan perahu mereka. Apabila daerah ini dijadikan pelabuhan, maka kultural dan sosiologi masyarakat akan hilang seiring perubahan peradaban,” cetusnya.

Reporter : Eeng Herman | Bayu Nugraha

 

Komentar ditutup.