KADES CIWARU ANGGAP DANA CSR BIOFARMA TIDAK TRANSPARAN


PALABUHANRATU ONLINE – Kapala Desa Ciwaru Kecamatan Ciemas Taufiq Guntur Rochmi, tuding jika anggaran CSR dari PT Biofarma yang di kelola oleh Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI) tak transparan dan tak merata.

Kades Ciwaru KecamatanCiwaru kab.Sukabumi menuding dana CSR Biofarma tidak transparan Foto : Palabuharatu Online

Kades Ciwaru Kecamatan Ciwaru kab.Sukabumi menuding dana CSR Biofarma tidak transparan Foto : Palabuharatu Online

Ia mengganggap, untuk pengembangan pariwisata di Kecamatan Ciemas, Desa Ciwaru lah yang paling berperan karena pusat serta kekayaan alam yang akan dikembangkan sejauh ini merupakan kekayaan alam Desa Ciwaru. “Sejauh ini, saya tak tahu berapa anggarannya dan tak ada transparansi kepada kami, saya hanya pernah dilibatkan rapat di awal saja, sedangkan kesininya tak pernah ada lagi kabar,” aku Opik, sapaan akrab Taufik Guntur Rochmi

Dari potensi alam yang ada, sejauh ini ada enam desa yang menjadi kawasan destinasi ciletuh, malah Desa Tamanjaya saja yang di prioritaskan mendapatkan bantuan CSR dan di bina. “Seharusnya kan enam desa itu, jika mau dibina karena ini kan semuanya masuk kawasan destinasi ciletuh,” ungkap Opick.

Dirinya mendesak pemerintah daerah untuk turun cross cek, manfaat serta keperuntukan anggaran CSR. Karena lanjut Opik, sejauh ini, untuk Desa Ciwaru saja, belum merasakan sepeser pun anggaran CSR tersebut.

Dikatakan Opick, sejauh ini PAPSI sudah memanfaatkan potensi alam yang ada di enam kawasan Kecamatan Ciemas, seperti membuat travel dan agen. “Lihat saja di internet, mereka menjual sumber daya alam wisata kami tanpa ada kontribusi pada kepemerintahan desa, padahal itu seharusnya menjadi salah satu hak kami juga dari enam desa lainnya,” kesalnya.

Sementara itu, ketua PAPSI Dadang Sutisna, membantah jika dirinya tidak transparan kepada masyarakat. Dari mulai tahun 2012-2013 CSR tersebut telah digunakan untuk penanaman 6000 pohon, pembuatan bak sampah serta papan nama.

“Jumlahkan saja 6000 dikali 19000 per pohon pembuatan bak sampah serta papan nama tersebut, selama dua tahun kami tak lebih menghabiskan 300 jt dari CSR tersebut, dan data datanya lengkap di kami,” ujarnya.

Jika ada kelebihan anggaran atau besaran anggaran yang beredar di masyarakat, hal itu bisa saja terjadi, anggran juga dipakai untuk study banding ke luar negeri. “Seperti yang digunakan oleh pak Kadis dan Pak Asda, itu kan dari CSR juga,” jelas Dadang.

Awal datangnya CSR dari Biofarma dirinya tak tahu menahu tentang geopark ciletuh, karena PAPSI hanya berkonsentrasi di bidang konservasi dengan melihat di kawasan ciletuh belum ada apa-apa dan langsung mengajukan kepada biofarma. “Dan kenapa hanya PAPSI yang dilibatkan, karena dulu belum ada komunitas sebanyak sekarang.

Reporter : Bardal

Komentar ditutup.