Tag Archives: telepon genggam

FESTIVAL GEOPARK CILETUH HARI INI


PALABUHANRATU ONLINE – Pada hari ini Sabtu (14/11/2015) hingga Minggu (15/11/2015) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat resmi menggelar Ciletuh Geopark Festival (CGF) 2015 di Kawasan Geopark Ciletuh,Desa Ciwaru Kecamatan  Ciemas Kabupaten Sukabumi.

Maksud dan tujuan Festival Geopark Ciletuh untuk mempromosikan potensi pariwisata dan budaya Ciletuh serta untuk meyakinkan dan berkomitmen menjadikan potensi Ciletuh sebagai kawasan Geopark Nasional dan Global Geopark Network (GGN).

Rock Climbing pada festival geopark ciletuh kabupaten Sukabumi

Rock Climbing pada festival geopark ciletuh kabupaten Sukabumi (Photo :Pixabay.com)

Festival ini juga bertujuan sebagai upaya memanfaatkan Ciletuh sebagai daya tarik wisata unggulan Jawa Barat, yaitu wisata minat khusus dan wisata petualangan atau adventure tourism. Dalam festival ini, Disparbud Jabar menggandeng Bio Farma dan Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI).

Kegiatan festival yang bertema “Exploring Ciletuh” atau jelajah Ciletuh ini memiliki tujuan mempromosikan potensi pariwisata dan budaya kawasan budaya Ciletuh. Selain itu, penguatan komitmen para pemangku kepentingan untuk membangun Ciletuh sebagai kawasan geopark nasional dan global geopark network, serta membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk membangun Ciletuh sebagai daya tarik wisata siap kunjung Jawa Barat.

wisatageopark Ciletuh ds.Ciwaru Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi

Obyek wisata geopark Ciletuh ds.Ciwaru Kecamatan Ciemas Kabupaten Sukabumi (Photo : istimewa)

Acara Ciletuh Geopark Festival 2015 akan menampilkan antara lain gelaran budaya Pajampangan yang melibatkan masyarakat seniman perwakilan dari 13 desa, warga sekitar Ciletuh dan olahraga minat khusus panjat tebing dan paralayang.

Iklan

SUKMAWIJAYA DIKAITKAN KASUS SAPI


 

PALABUHANRATU ONLINE – Mantan Bupati Sukabumi, Sukmawijaya mulai disebut-sebut namanya karena diduga terkait kasus bansos sapi Kelompok Ternak Goalpara. Terkait hal ini, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi mahasiswa meminta aparat penegak hukum khususnya Kejari Cibadak untuk memanggil mantan Bupati Sukabumi, Sukmawijaya untuk diperiksa terkait tindak pidana korupsi sapi oleh oknum Kelompok Ternak Goalpara Sukaraja Kabupaten Sukabumi yang merugikan negara hampir Rp 4,3 miliar.

“Sukmawijaya harus dimintai keterangannya oleh Kejari Cibadak terkait tindak pidana korupsi sapi,” ujar Ketua Fraksi Rakyat, Rozak Daud kepada Radar Sukabumi, Kamis (3/9/15).

Dikatakan Rozak, kasus ini jelas adanya keterlibatan mantan Bupati Sukabumi, Sukmawijaya. Dalam hal ini, pemerintah yang merekomendasikan Kelompok Ternak Goalpara untuk menerima bantuan sapi dari pemerintah pusat.

“Jadi tidak menutup kemungkinan mantan orang nomor satu di Kabupaten Sukabumi tidak memilki keterlibatan secara langsung. Kejari Cibadak harus berani memanggil Sukmawijaya untuk dimintai keterangan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) Sukabumi, Fahmi Setia mengatakan, jika mengaku tidak mengetahui berarti pemerintah menutup mata. Sebab pasti pemerintah secara gamlang tahu persoalan korupsi sapi.

“Kami mencium adanya keterlibatan mantan Bupati Sukabumi, Sukmawijaya dalam tindak pidana korupsi sapi,” jelasnya.

Terpisah, Wakil Ketua Lembaga Advokasi Masyarakat Pinggiran Nahdliyin (LAMPN) Sukabumi, Subhan Jawawi AK mengatakan, pemanggilan mantan Bupati Sukabumi, perlu dilakukan untuk mengetahui benar tidaknya keterlibatan mantan orang nomor satu ini.

“Kami meminta kepada Kejari Cibadak untuk memanggil Sukmawijaya untuk dimintai keterangan. Setelah adanya pemanggilan kita baru mengetahui ada atau tidak adanya keterlibatan mantan Bupati Sukabumi ini,” tuturnya.

Sementara itu, kasus dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) Bansos Sapi Kelompok Goalpara senilai Rp 4,3 miliar di Desa Cisarua, Kecamatan Sukaraja, yang sempat mengendap sejak 2006 kembali mencuat. Setelah dinaikkan statusnya menjadi penyidikan oleh tim penyidik Kejari Cibadak.

Tim penyidik berjanji, 30 hari pasca dinaikkan statusnya menjadi penyidikan, nama-nama tersangka segera dirilis.
Kasus bansos sapi ini terjadi pada 2006 dan 2007. Saat itu, sebanyak 235 ekor dari Kementerian Peternakan diberikan kepada beberapa kelompok ternak di Kecamatan Goalpara, akan tetapi keberadaan sapi tersebut tak jelas keberadaannya.

Kasus ini berlanjut, akhir 2007 para kelompok tersebut diwajibkan mengembalikan bantuan sapi oleh kejaksaan, namun hal tersebut tak dilakukan. Permintaan untuk mengembalikan sapi ini dilakukan pada 2013, tetapi dari ratusan sapi itu hanya empat ekor sapi yang dikembalikan sedangkan ratusan sapi itu diduga telah dijual masing-masing kelompok.POJOKJABAR.id, SUKALARANG (cr5/d)